Strategi Press Release untuk Startup Fintech: Membangun Kepercayaan di Tengah Pengawasan OJK yang Makin Ketat
Industri fintech Indonesia sedang berada di titik balik. Laporan Annual Members Survey (AMS) 2025-2026 dari Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) yang melibatkan 141 perusahaan anggota memetakan lima transisi struktural yang akan menentukan daya saing industri ke depan. Salah satu benang merahnya jelas: fintech Indonesia sedang bergeser dari era ekspansi agresif menuju fondasi bisnis yang lebih berkelanjutan, dengan pengawasan OJK yang terus diperketat di sepanjang jalan.
Pergeseran ini punya konsekuensi langsung ke cara fintech berkomunikasi dengan publik. Ketika sebuah aplikasi belanja online mengumumkan fitur baru, risikonya kecil kalau pesannya kurang pas. Ketika sebuah platform fintech lending atau dompet digital melakukan hal yang sama, publik yang membaca adalah orang-orang yang mempertimbangkan menaruh uang atau data keuangan mereka di sana. Beban kepercayaan ini yang sering terlewat ketika startup fintech menulis press release dengan gaya generik ala startup teknologi biasa, padahal audiens fintech jauh lebih waspada terhadap klaim yang terdengar berlebihan.
Artikel ini membahas bagaimana startup fintech sebaiknya menyusun strategi press release yang bukan cuma mengejar liputan, tapi juga membangun kepercayaan jangka panjang di industri yang pengawasannya semakin ketat.
Mengapa Fintech Tidak Bisa Pakai Playbook PR Startup Biasa
Press release startup teknologi pada umumnya berputar di seputar pendanaan, fitur baru, dan pertumbuhan pengguna. Fintech perlu menambahkan satu lapisan lagi: bukti kepatuhan dan keamanan. Jurnalis media ekonomi dan bisnis di Indonesia sudah terbiasa menerima rilis fintech, sehingga mereka justru lebih kritis mencari detail seperti status izin OJK, mekanisme perlindungan dana nasabah, atau bagaimana perusahaan menangani risiko gagal bayar. Press release yang hanya menonjolkan angka pertumbuhan tanpa konteks kepatuhan biasanya berhenti di kotak masuk jurnalis, tidak pernah naik jadi berita.
Membangun Narasi Kepatuhan Tanpa Terdengar Seperti Dokumen Regulasi
Menyebut status terdaftar dan diawasi OJK itu wajib, tapi cara menyampaikannya menentukan apakah rilis terasa meyakinkan atau justru kaku dan defensif. Alih-alih menempelkan disclaimer di paragraf terakhir, coba jalin informasi kepatuhan ke dalam cerita utama. Misalnya, ketika mengumumkan produk baru, jelaskan proses uji kelayakan yang dilalui sebelum produk itu boleh dirilis ke publik. Ketika mengumumkan pendanaan, kaitkan dengan bagaimana dana tersebut memperkuat mitigasi risiko, bukan cuma ekspansi pasar. Narasi seperti ini menunjukkan kepatuhan sebagai bagian dari budaya perusahaan, bukan formalitas yang ditempel belakangan.
Memilih Media yang Tepat: Ekonomi, Umum, atau Media Teknologi
Fintech punya tiga jenis media potensial dengan audiens dan sudut pandang berbeda. Media ekonomi dan bisnis biasanya tertarik pada angka, tren industri, dan posisi kompetitif, dan wartawannya umumnya paling paham konteks regulasi keuangan sehingga pertanyaannya lebih tajam. Media umum lebih tertarik pada dampak ke masyarakat luas, misalnya soal inklusi keuangan atau literasi digital bagi masyarakat yang baru pertama kali memakai layanan finansial digital. Media teknologi lebih fokus ke sisi produk dan inovasi, termasuk arsitektur sistem dan pengalaman pengguna. Mengirim rilis yang sama persis ke ketiganya biasanya kurang efektif. Sesuaikan sudut cerita dengan minat masing-masing redaksi, meski inti informasinya tetap sama. Kalau sumber daya terbatas, mulai dari media ekonomi karena kredibilitasnya paling relevan untuk membangun kepercayaan finansial.
Menentukan Timing: Kapan Sebaiknya Bicara, Kapan Sebaiknya Diam Dulu
Momentum rilis penting, tapi bagi fintech, diam pada waktu yang tepat kadang sama pentingnya dengan bicara. Rilis soal pertumbuhan pesat sebaiknya dihindari bersamaan dengan periode ketika industri sedang disorot negatif, misalnya saat ada kasus gagal bayar di perusahaan lain yang membuat media dan publik lebih sensitif terhadap klaim pertumbuhan agresif. Sebaliknya, momen seperti forum industri tahunan, misalnya Indonesia Digital Bank Summit atau Fintech Lending Days, perubahan regulasi, atau laporan asosiasi seperti AMS AFTECH adalah kesempatan baik untuk menyisipkan pandangan perusahaan sebagai bagian dari percakapan yang lebih besar, bukan promosi berdiri sendiri. Menyusun kalender editorial sederhana yang menandai momen-momen ini di awal tahun akan membantu tim marketing merencanakan rilis jauh lebih matang dibanding menulis rilis secara reaktif.
Menyiapkan Rencana Komunikasi Krisis Sebelum Dibutuhkan
Fintech lebih rentan terhadap krisis reputasi mendadak dibanding bisnis lain, mulai dari isu gagal bayar, gangguan sistem, sampai potensi kebocoran data. Menyiapkan template respons dan jalur komunikasi ke media sebelum krisis terjadi akan sangat menentukan seberapa cepat perusahaan bisa merespons dengan tenang, bukan reaktif. Prinsip dasarnya sederhana: akui masalah lebih dulu daripada menunggu media menemukannya sendiri, jelaskan langkah konkret yang sedang diambil, dan hindari bahasa yang terkesan menutupi fakta. Media dan publik cenderung lebih memaafkan keterbukaan dibanding kesan menyembunyikan sesuatu, dan rilis klarifikasi yang jujur biasanya justru mengurangi durasi pemberitaan negatif dibanding sikap diam yang berlarut-larut.
Berkolaborasi dengan Asosiasi Industri dalam Narasi Publik
Mengaitkan pesan perusahaan dengan inisiatif asosiasi seperti AFTECH atau forum resmi seperti Indonesia Digital Bank Summit bisa memberi bobot tambahan pada press release. Jurnalis cenderung lebih percaya diri memuat rilis yang selaras dengan arah kebijakan industri secara keseluruhan, dibanding klaim sepihak dari satu perusahaan. Ini juga membantu memposisikan startup sebagai bagian dari ekosistem yang bertanggung jawab, bukan pemain yang berjalan sendiri di luar arus regulasi.
Mengukur Dampak ke Kepercayaan, Bukan Cuma Jumlah Klik
Untuk bisnis pada umumnya, metrik press release sering berhenti di jumlah media yang memuat dan trafik yang masuk. Untuk fintech, metrik itu perlu diperluas ke indikator kepercayaan, misalnya perubahan sentimen di kolom komentar dan media sosial setelah rilis, pertanyaan yang masuk ke customer service terkait isu yang diangkat di rilis, atau nada pemberitaan lanjutan dari media yang sama pada periode berikutnya. Sebelum menentukan target publikasi, tim marketing juga bisa memakai Kalkulator Nilai Media gratis kami untuk memperkirakan nilai ekuivalen dari liputan yang ditarget, sehingga strategi media relations bisa dipertanggungjawabkan secara angka ke manajemen, bukan sekadar klaim "sudah tayang di banyak media".
Membangun kepercayaan publik lewat media nasional bukan pekerjaan sekali jalan, apalagi di industri fintech yang pengawasannya terus bertambah ketat seiring makin dewasanya ekosistem. Kalau tim internal belum punya waktu atau jaringan media ekonomi yang cukup luas untuk menjalankan strategi ini secara konsisten, PusatRilis.id membantu startup fintech menyusun narasi, memilih media yang tepat, dan mendistribusikan press release ke media nasional dengan pendekatan yang memperhitungkan sensitivitas industri keuangan.

