Press Release Laporan Keberlanjutan: Cara Agar Program ESG Diliput Media
Setiap tahun ribuan perusahaan di Indonesia menerbitkan laporan keberlanjutan. Dokumennya tebal, datanya lengkap, desainnya rapi. Lalu file PDF itu diunggah ke situs perusahaan, ditautkan di satu unggahan media sosial, dan berhenti di situ. Tidak ada satu pun media yang menulis tentangnya.
Padahal isinya sering kali layak berita: program pemberdayaan yang benar-benar mengubah satu desa, penurunan emisi yang terukur, atau perubahan rantai pasok yang berdampak pada ribuan petani. Masalahnya bukan pada programnya, melainkan pada cara cerita itu dikemas dan dikirim ke redaksi.
Isu ini makin relevan pada 2026. Otoritas Jasa Keuangan sedang menyiapkan aturan baru pelaporan keberlanjutan yang mengacu pada standar global ISSB (IFRS S1 dan S2), dan mayoritas emiten di Bursa Efek Indonesia kini sudah rutin menerbitkan laporan keberlanjutan setiap tahun. Artinya, punya laporan keberlanjutan tidak lagi menjadi pembeda. Yang membedakan adalah siapa yang berhasil menerjemahkan laporan itu menjadi berita yang dibaca publik.
Mulai dari Satu Angka, Bukan dari Seluruh Laporan
Kesalahan paling sering terjadi di kalimat pertama: perusahaan menulis "PT X meluncurkan Laporan Keberlanjutan 2025". Bagi redaksi, kalimat itu bukan berita. Peluncuran sebuah dokumen adalah agenda internal perusahaan, bukan peristiwa yang memengaruhi pembaca.
Bacalah kembali laporan Anda dan cari satu temuan yang bisa berdiri sendiri sebagai berita. Bisa berupa angka penurunan emisi dibanding tahun sebelumnya, jumlah pelaku UMKM binaan yang naik kelas, persentase limbah yang berhasil didaur ulang, atau jumlah tenaga kerja lokal yang terserap. Satu angka konkret jauh lebih kuat daripada sepuluh halaman narasi komitmen.
Setelah angka itu ketemu, uji dengan pertanyaan sederhana: kalau saya bukan karyawan perusahaan ini, apakah saya peduli? Kalau jawabannya ragu, cari angka lain. Rilis yang gagal biasanya bukan karena ditulis dengan buruk, tetapi karena tidak punya inti berita sejak awal.
Bangun Struktur yang Memudahkan Redaksi
Jurnalis membaca puluhan rilis setiap hari, sering kali hanya lewat layar ponsel di sela liputan. Struktur yang jelas menentukan apakah rilis Anda dibaca sampai habis atau ditutup di paragraf pertama.
Letakkan temuan utama di judul dan paragraf pembuka, lengkap dengan angka serta periode waktunya. Paragraf kedua menjelaskan konteks: kenapa angka itu penting dan apa pembandingnya. Paragraf ketiga masuk ke kutipan pimpinan. Setelah itu baru rincian program, metodologi, dan informasi ringkas tentang perusahaan.
Cantumkan juga sumber data di bagian bawah, misalnya nama standar pelaporan yang dipakai (GRI, SASB, atau ISSB) dan periode yang dicakup. Redaksi media ekonomi dan keberlanjutan hampir pasti menanyakan hal ini, dan menyediakannya sejak awal membuat rilis Anda lebih mudah dipercaya.
Kalau tim Anda belum punya format baku, Template Generator gratis kami bisa dipakai sebagai kerangka awal sebelum disesuaikan dengan data laporan Anda.
Tulis Kutipan yang Benar-Benar Bisa Dikutip
Kutipan adalah bagian yang paling sering dibuang jurnalis, karena isinya biasanya klise: "Kami berkomitmen untuk terus berkontribusi bagi masyarakat dan lingkungan." Kalimat semacam itu tidak menambah informasi apa pun bagi pembaca.
Kutipan yang baik menjelaskan keputusan, bukan perasaan. Misalnya menerangkan kenapa perusahaan memilih fokus pada satu isu tertentu, tantangan apa yang muncul di lapangan, atau target berikutnya beserta tenggat waktunya. Kutipan yang berani mengakui keterbatasan justru sering lebih dipercaya daripada yang hanya memuji diri sendiri.
Batasi dua kutipan saja: satu dari pimpinan perusahaan untuk menjelaskan arah kebijakan, satu dari penerima manfaat atau mitra pelaksana untuk sisi lapangan. Kutipan penerima manfaat sering kali justru menjadi bagian yang paling banyak dikutip ulang media.
Pilih Media yang Memang Menulis Isu Ini
Mengirim rilis keberlanjutan ke seluruh daftar kontak media sekaligus adalah cara tercepat membuatnya diabaikan. Tidak semua redaksi punya rubrik untuk topik ini, dan rilis yang salah alamat akan langsung terlewat.
Susun daftar yang lebih sempit tetapi tepat sasaran: media ekonomi nasional yang punya desk keberlanjutan, media khusus lingkungan dan energi, media daerah di lokasi program berjalan, serta media industri sesuai sektor perusahaan. Media daerah sering diremehkan, padahal untuk program berbasis komunitas justru merekalah yang paling tertarik dan paling dibaca oleh pemangku kepentingan setempat.
Cek juga siapa jurnalis yang belakangan menulis topik serupa, lalu sesuaikan sudut pandang rilis dengan minat mereka. Personalisasi singkat di kalimat pengantar email membuat perbedaan yang nyata dibanding kiriman massal tanpa nama.
Perhatikan Waktu Rilis
Musim laporan keberlanjutan menumpuk di kuartal pertama hingga April, mengikuti tenggat penyampaian laporan tahunan ke regulator. Pada periode itu redaksi menerima rilis serupa dari puluhan perusahaan sekaligus, dan peluang Anda menipis drastis.
Ada dua siasat yang biasa dipakai. Pertama, merilis lebih awal sebelum musim puncak, dengan fokus pada capaian program alih-alih pada dokumen laporannya. Kedua, memecah satu laporan menjadi beberapa rilis sepanjang tahun: satu untuk capaian lingkungan, satu untuk program pemberdayaan, satu lagi ketika ada milestone lapangan seperti panen perdana atau peresmian fasilitas.
Cara kedua biasanya lebih efektif. Alih-alih satu ledakan publikasi yang cepat hilang dari perhatian, perusahaan mendapat kehadiran media yang menyebar sepanjang tahun dan terasa lebih organik.
Hindari Kesalahan yang Membuat Rilis Dibuang
Beberapa pola berulang membuat rilis keberlanjutan langsung masuk keranjang sampah redaksi. Yang pertama adalah klaim tanpa angka pendukung. Menyebut sesuatu "berdampak signifikan" tanpa menyertakan besarannya membuat rilis terbaca seperti materi iklan.
Yang kedua adalah jargon berlebihan. Istilah seperti sinergi, ekosistem berkelanjutan, dan transformasi holistik jarang bertahan sampai naskah akhir. Gantilah dengan kalimat yang menjelaskan apa yang benar-benar dikerjakan dan siapa yang merasakan hasilnya.
Yang ketiga adalah lampiran yang menyulitkan. Kirim foto beresolusi cukup dengan keterangan yang lengkap, sertakan tautan unduh laporan, dan pastikan nama serta nomor narahubung benar-benar bisa dihubungi pada hari rilis. Banyak peluang liputan hilang hanya karena jurnalis gagal melakukan konfirmasi sebelum tenggat.
Ukur Hasilnya Melebihi Jumlah Pemberitaan
Menghitung berapa media yang memuat memang perlu, tetapi belum cukup untuk komunikasi keberlanjutan. Perhatikan juga apakah angka utama Anda ikut terbawa dalam pemberitaan, apakah kutipan yang dipakai adalah yang Anda siapkan, dan apakah medianya sesuai dengan pemangku kepentingan yang ingin dijangkau.
Satu artikel di media ekonomi yang dibaca investor dan regulator sering lebih bernilai daripada dua puluh muatan di situs yang nyaris tidak punya pembaca. Catat pula pertanyaan lanjutan dari jurnalis, karena itu petunjuk paling jujur tentang bagian mana dari program Anda yang benar-benar menarik perhatian publik.
Laporan keberlanjutan yang baik butuh waktu berbulan-bulan untuk disusun, melibatkan banyak divisi, dan tidak sedikit biayanya. Sayang kalau usaha sebesar itu berhenti sebagai satu file PDF di halaman situs perusahaan. Dengan sudut berita yang jelas, struktur yang rapi, dan daftar media yang tepat, isi laporan itu bisa sampai ke publik yang seharusnya membacanya.
Kalau tim Anda butuh bantuan menyiapkan dan mendistribusikan siaran pers laporan keberlanjutan ke media nasional maupun media daerah, PusatRilis.id siap membantu mulai dari penyusunan naskah sampai penempatan publikasi.


