Kembali ke Blog
Tips & Trik

5 Kesalahan Umum Saat Menulis Press Release yang Bikin Ditolak Media

Tim PusatRilis.id19 Juli 20266 menit
5 Kesalahan Umum Saat Menulis Press Release yang Bikin Ditolak Media

Sudah begadang menulis, sudah dikirim ke puluhan alamat email redaksi, tapi press release kamu tidak pernah tayang di mana pun. Tidak ada penolakan resmi, tidak ada penjelasan — hanya kesunyian. Rasanya seperti berteriak di ruangan kosong: kamu yakin ada berita penting yang layak diketahui publik, tapi media sama sekali tidak tertarik meliriknya.

Kalau ini terdengar familiar, kamu tidak sendirian. Sebagian besar press release yang gagal tayang bukan karena kontennya tidak penting, melainkan karena cara penyampaiannya salah sejak awal. Jurnalis dan editor media menerima puluhan hingga ratusan email siaran pers setiap hari, dan mereka hanya butuh beberapa detik untuk memutuskan: dibaca lanjut, atau langsung masuk folder sampah.

**Kabar baiknya, ini bukan masalah tanpa solusi.** Hampir semua kegagalan press release berakar dari lima kesalahan yang sama, dan semuanya bisa diperbaiki begitu kamu tahu apa yang sebenarnya dicari media. Berikut lima kesalahan paling umum yang bikin press release ditolak media — plus cara memperbaikinya, satu per satu.

## 1. Isi Press Release Terlalu Hard-Selling, Bukan Berita

Ini kesalahan nomor satu yang paling sering ditemui. Banyak perusahaan memperlakukan press release seperti brosur iklan: penuh kata "terbaik", "nomor satu", "revolusioner", dan promosi diskon, tapi minim substansi yang bisa dianggap berita.

**Kenapa ini masalah:** media bukan agen periklanan gratis. Jurnalis punya kewajiban etik untuk menyajikan informasi yang objektif dan berimbang ke pembaca, bukan menyalin mentah-mentah materi promosi klien. Begitu editor mencium bau "iklan terselubung", press release langsung diabaikan — sekeras apa pun redaksi diyakinkan bahwa produknya bagus.

**Cara memperbaikinya:** ubah sudut pandang dari "produk kami hebat" menjadi "ini yang terjadi di industri/masyarakat, dan produk kami adalah bagian dari cerita itu". Kurangi kata sifat superlatif, ganti dengan data, fakta, dan konteks yang relevan bagi pembaca media tersebut.

- **Sebelum:** "Produk X adalah solusi skincare terbaik dan tercanggih yang pernah ada, wajib dimiliki setiap orang!"

- **Sesudah:** "Merespons tingginya kasus iritasi kulit akibat polusi kota besar, PT ABC meluncurkan Produk X yang dikembangkan bersama tim dermatolog selama dua tahun."

## 2. Tidak Ada Nilai Berita (Newsworthy) yang Jelas

Banyak press release gagal bukan karena ditulis buruk, tapi karena isinya memang tidak layak jadi berita. Peluncuran produk kecil, pergantian logo, atau ulang tahun perusahaan ke-3 mungkin penting bagi internal tim, tapi belum tentu penting bagi pembaca media secara luas.

**Kenapa ini masalah:** editor selalu bertanya "so what?" — kenapa pembaca mereka harus peduli dengan informasi ini? Kalau jawabannya hanya "karena ini kabar dari perusahaan kami", peluang dimuat sangat kecil. Media butuh angle yang menyentuh kepentingan publik: tren industri, dampak sosial-ekonomi, angka yang mengejutkan, atau keterkaitan dengan isu yang sedang hangat.

**Cara memperbaikinya:** sebelum menulis, tanyakan dulu "mengapa orang yang tidak berkepentingan dengan bisnis kami perlu tahu ini?" Cari sudut pandang yang lebih besar dari sekadar kabar internal — misalnya kaitkan dengan tren pasar, regulasi baru, atau kebutuhan konsumen yang lebih luas.

- **Sebelum:** "PT ABC merayakan hari jadi ke-3 dengan syukuran sederhana di kantor."

- **Sesudah:** "Dalam tiga tahun, PT ABC berhasil menyerap 500 tenaga kerja lokal di tengah perlambatan sektor manufaktur — begini strateginya."

## 3. Judul Lemah atau Malah Clickbait Berlebihan

Ada dua ekstrem yang sama-sama bermasalah: judul yang datar dan membosankan seperti nama internal produk, atau judul yang terlalu bombastis dan clickbait sehingga terkesan tidak kredibel. Keduanya membuat editor ragu sejak baris pertama.

**Kenapa ini masalah:** judul adalah first impression. Editor sering hanya membaca judul dan paragraf pembuka sebelum memutuskan lanjut atau tidak. Judul yang membosankan tidak memancing rasa ingin tahu, sementara judul clickbait yang tidak sesuai isi justru menurunkan kredibilitas — media tidak mau namanya ikut terseret memuat sesuatu yang terkesan norak atau menyesatkan.

**Cara memperbaikinya:** buat judul yang informatif sekaligus punya "hook", tapi tetap jujur terhadap isi. Sertakan angka, hasil konkret, atau fakta menarik — bukan janji berlebihan.

- **Sebelum (terlalu datar):** "PT ABC Luncurkan Aplikasi Baru"

- **Sebelum (terlalu clickbait):** "Aplikasi Ini Akan Mengubah Hidup Anda Selamanya, Wajib Coba Sekarang Juga!"

- **Sesudah:** "PT ABC Luncurkan Aplikasi Pencatatan Keuangan UMKM, Targetkan 100 Ribu Pengguna di 2026"

## 4. Struktur Berantakan, Tidak Pakai Piramida Terbalik

Press release yang ditulis seperti cerita novel — pembukaan panjang, latar belakang bertele-tele, baru informasi penting muncul di paragraf keenam — hampir pasti tidak akan selesai dibaca. Jurnalis tidak punya waktu menunggu.

**Kenapa ini masalah:** dunia jurnalistik memakai prinsip piramida terbalik: informasi paling penting (5W+1H — apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana) harus ada di paragraf pertama, disusul detail pendukung, dan ditutup dengan informasi tambahan atau kontak media. Kalau strukturnya terbalik, editor harus bersusah payah mencari inti berita — dan biasanya mereka tidak mau repot-repot melakukannya.

**Cara memperbaikinya:** tulis paragraf pertama seolah-olah itu satu-satunya paragraf yang akan dibaca. Masukkan siapa, apa, kapan, di mana, dan kenapa acara/berita ini penting sejak kalimat pertama. Baru setelah itu, kembangkan dengan kutipan narasumber, data pendukung, dan latar belakang di paragraf berikutnya.

- **Sebelum:** paragraf pertama bercerita tentang sejarah perusahaan sejak berdiri, baru di paragraf kelima disebutkan bahwa perusahaan meluncurkan produk baru minggu ini.

- **Sesudah:** paragraf pertama langsung menyebutkan "PT ABC resmi meluncurkan Produk X di Jakarta pada Kamis (18/7), menyasar segmen keluarga muda dengan harga terjangkau" — baru dilanjutkan sejarah dan konteks di paragraf berikutnya.

## 5. Salah Timing atau Target Media yang Tidak Relevan

Kesalahan terakhir ini sering luput dari perhatian: mengirim press release ke media yang salah, atau di waktu yang salah. Mengirim rilis tentang teknologi finansial ke media kuliner, atau mengirim recap acara tiga minggu setelah acara selesai, sama saja dengan membuang usaha yang sudah dikerjakan sejak awal.

**Kenapa ini masalah:** setiap media punya rubrik dan pembaca spesifik. Editor rubrik ekonomi tidak akan meliput berita gaya hidup, begitu pun sebaliknya. Selain itu, berita punya "masa segar" — begitu momentumnya lewat, nilai beritanya anjlok drastis meski isinya sama persis dengan yang dikirim tepat waktu.

**Cara memperbaikinya:** riset dulu media dan rubrik mana yang paling relevan dengan topik rilis kamu, lalu kirim di golden hour — idealnya dalam hitungan jam setelah kejadian, bukan hari atau minggu setelahnya. Kalau daftar media dan timing terasa rumit untuk diurus sendiri di tengah kesibukan operasional, di sinilah jasa penulisan dan distribusi seperti **PusatRilis.id** biasanya turun tangan: draft ditulis sesuai standar jurnalistik, lalu didistribusikan ke jaringan media nasional yang memang relevan dengan topik dan target audiens kamu — jadi kekhawatiran ditolak media bisa ditekan sejak awal.

## Kesimpulan: Berhenti Menebak, Mulai Menulis dengan Standar Media

Kalau press release kamu selama ini sering ditolak atau tidak kunjung tayang, kemungkinan besar bukan karena beritanya tidak penting — tapi karena satu atau beberapa dari lima kesalahan di atas: terlalu hard-selling, tidak newsworthy, judul lemah, struktur berantakan, atau salah sasaran media dan waktu kirim. Untungnya, semua ini bisa diperbaiki dengan sedikit disiplin menulis ala jurnalis.

Tapi kalau kamu tidak punya waktu untuk mempelajari dan mempraktikkan semuanya sendiri di tengah kesibukan menjalankan bisnis, tidak perlu memaksakan diri. **PusatRilis.id** siap membantu menulis press release yang memenuhi standar media sekaligus mendistribusikannya ke jaringan media nasional yang tepat sasaran. Hubungi tim PusatRilis.id sekarang, dan biarkan rilis pers kamu akhirnya tayang — bukan sekadar terkirim.

Bagikan Artikel: